Keseharian Bersama Perubahan Iklim

20 Jan 2011

Perihal mengenai perubahan iklim, sejak beberapa tahun terakhir memang selalu menjadi topik perbincangan serius yang tak ada habis-habisnya. Tidak hanya di Indonesia, dunia pun turut gonjang-ganjing menghadapinya. Bahkan sudah berkali-kali diadakan konferensi tingkat dunia yang secara khusus membahas problem akbar ini. Bermacam-macam pendapat dikumpulkan dan kemudian disimpulkan untuk mencari solusi tepat menanggapi kasus global tersebut. Disadari atau tidak, perubahan iklim dibumi dari waktu kewaktu terus saja mengalami peningkatan buruk dan kian sukar teratasi. Fenomena diatas terjadi tidaklah lain karena kehidupan menusia dibumi yang telah terlalu kental bersahabat dengan modernisasi dan globalisasi. Dimana tanpa ada kontrol dan penyeimbang seperti sekarang, tindakan ini telah menjadi faktor utama lahirnya perubahan iklim.

Dilain sisi, berbicara mengenai perubahan iklim, khususnya dilingkungan sekitar serta dalam keseharian penulis, sampai kini kondisinya bisa digolongkan menjadi tiga jenis : Aneh, Membingungkan, dan Menyeramkan. Mengapa demikian, berikut adalah penjelasaannya :

  • Aneh

Bila biasanya atau pada normalnya, cuaca panas itu menunjukkan akan tidak adanya hujan turun dan mendung sebagai tanda turunnya hujan, realita saat ini sudah berkata berlawanan dan aneh. Gara-gara perubahan iklim, cuaca panas tidak lagi memberi kepastian 100% bahwa hujan tak akan turun, bahkan persentasenya hanya mencapai 50% saja. Pada saat kondisi panas menyengat disiang bolong, acapkali sekonyong-konyong hujan turun. Meskipun itu cuma sebentar dan tidak terlalu deras. Kondisi serupa juga terjadi saat mendung beserta tiupan angin kencang datang. Hujan deras, angin plus petir belum tentu akan kejadian. Akan tetapi, tidak jarang pula mendung sekedar menjadikan pagi atau siang layaknya sore maupun malam hari.

  • Membingungkan

Sebagai Indonesia yang beriklim tropis, setiap tahun hanya akan ada 2 musim yaitu kemarau dan hujan. Pembagian lama waktunya pun adil. Dimana, kemudian diantara kedua musim itu akan terjadi proses pergantian yang sering disebut dengan musim pancaroba. Nah, yang menjadi sebuah kebingungan ditengah perubahan iklim layaknya sekarang, ialah tak tentunya lagi lama dari setiap iklim. Terbukti dari keseharian penulis yang terkadang ketika sudah masuk waktunya musim hujan, kemarau masih saja jalan dan hujan justru tak turun-turun. Pun juga sama halnya dimusim kemarau yang masih diwarnai banyak hujan. Akibatnya kini iklim menjadi sulit untuk diprediksi.

  • Menyeramkan

Kiranya, akan mustahil menjadi perbincangan serius yang berkepanjangan bilamana masalah perubahan iklim tidak melahirkan dampak yang seram. Mengupas dari sesuatu yang mudah dalam kehidupan sehari-hari penulis saja sudah terbilang sebagai sesuatu yang mengerikan sekaligus selalu meneror. Tidak hanya dimusim kemarau, melainkan disaat musim hujan juga. Ditelisik dari musim kemarau, adanya perubahan iklim ditunjukkan dari semakin panasnya sengatan matahari dikulit, yang kemudian membuat kulit menjadi mudah `rusak`. Sekalipun itu sudah berada didalam rumah, terkadang jika tanpa menggunakan kipas angin ataupun AC, suhu dan udaranya dibanding dengan yang diluar nyaris sama. Sedangkan dari musim hujan yang menjadi momok paling menakutkan ialah adanya petir atau guntur keras secara terus-menerus serta angin kencang yang tidak akan reda total sebelum hujan berhenti. Kondisi ini akan lebih sera apabila terjadi dimalam hari. Bukan hanya menambah dingin udara, melainkan juga menimbulkan rasa was-was akan kejadian lain akibatnya. Sehingga tidur malampun menjadi tidak nyaman.

Alhasil pada klimaksnya, segala bentuk kondisi lingkungan dengan pengaruh perubahan iklim itu kini juga telah menyerang keseharian tiap orang. Mulai dari hal sepele, seperti yang dialami keluarga penulis sejak timbulnya kondisi `aneh`. Nyaris setiap hari ketika menjemur pakaian lebih dari 5 kali bolak-balik memanaskan (dibawah terik matahari) dan meneduhkan jemuran. Cepatnya pergantian cuaca yang mampu kurang dari 2 jam-lah sebagai sang `profokator`. Tidak hanya itu saja, para petani pun turut menjadi korbannya karena hasil panennya yang kurang memuaskan. Sama halnya dengan banyaknya buah dipohon yang matang kurang sempurna. Jadi, benar bila perubahan iklim itu tak jarang disebut-sebut sebagai pembuat jengkel.


TAGS perubahan iklim


-

Author

Follow Me